Stereotype

Januari 21, 2017


"Aisha, nanti kalo udah SMA mau ngambil jurusan apaan, dek?"

                                "Mau ngambil bahasa aja, mas."

"Kok bahasa? Emang ada ya? Bukannya cuma IPA sama IPS doang?"

                                 "Ada kok mas, di SMA *** ada."

 "Kenapa gak ngambil IPA? Biar bagus gitu."

                                "Ya... aku maunya masuk Bahasa. IPA susah, IPS juga."

"Yakin mau bahasa? Sempit loh, bidangnya."

                                "Bahasa gak sempit kok, mas. Mas-nya aja yang gak tau seberapa luasnya Bahasa dan Sastra itu." 

Ya... kira-kira gitu deh, percakapanku dengan seorang kakak sepupu sekitar setahun yang lalu. Terakhir kali kita ketemu, saat itu aku lagi bener-bener penasaran sama sistem penjurusan di SMA. Mumpung tinggal menunggu dua semester lagi untuk sampai di sana. Aku pun memutuskan untuk menanyakan masalah penjurusan ini dengan kakak sepupuku yang kebetulan sudah punya pengalaman tiga tahun di SMA.

Emang sih, saat itu aku merasa kalau aku terlalu cepet mikir sampai ke sana. Tapi bukankah kata orang lebih cepat lebih baik? Apalagi penjurusan di masa yang akan mendatang ini katanya akan 'menentukan' masa depan kita nanti.

Nah, kebetulan saudara sepupuku ini anak IPS. Katanya sih mau masuk IPA tapi gak jadi gara-gara ada Fisika... yeah, aku juga gitu kok. Sama sekali gak suka Fisika, Matematika, atau apapun yang berhubungan dengan hitung-hitungan dan angka. Pusing.

Dari dulu Ibu sama Ayah udah bilang ke aku, "Gakpapa gak suka Matematika, tapi nanti kamu pas SMA harus masuk jurusan IPA." Nah, loh?..

Jujur, dulu aku sama sekali gak ngerti maksud dari 'kamu pas SMA harus masuk jurusan IPA' itu apa. Aku sih, iya iya aja dulu. Yah, namanya juga masih polos. Baru tau tambah-tambahan sama cara ngomong 'I, You, They, We' doang. Baru sekitar menjelang masuk SMP aku baru ngerti arti dari ucapan Ibu sama Ayah dulu apa. Di SMA nanti bakal ada penjurusan. Ada dua pilihan; IPA atau IPS.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah: "Kenapa harus masuk IPA?" Emang ada apa, sih, dengan IPS? Emang anak-anak IPA pinter semua, ya? Emang anak-anak IPS itu 'anak buangan'?

Salah satu alasan yang dilontarkan Ibu sama Ayah ketika aku nanya pertanyaan itu adalah, "Karena anak IPA nantinya bisa masuk fakultas apapun di Universitas. Anak IPS cuma bisa masuk fakultas IPS aja." Oh gitu, ya. Terus, kenapa harus IPA? Kalau aku maunya IPS gimana?

Terlepas dari itu semua, aku juga masih terombang-ambing antara IPA sama IPS. Bahkan sampai sekarang. Apalagi dari dulu, tuh, aku gak pernah ngerasain 'chemistry' sama dua mapel itu. Sama sekali enggak. Suka sih, suka. Tapi gak cinta.

Justru dari dulu aku 'nyaman' banget sama mata pelajaran Bahasa. Bahasa apapun itu. Baik Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, maupun Bahasa Arab yang dulu sempat kupelajari waktu SD. I enjoy language and culture a lot. Istilah romantisnya, aku jatuh cinta sama bidang ini.

Tapi sayang banget, di Indonesia, orang-orang yang tertarik atau bekerja di bidang Sastra dan Bahasa itu masih minoritas. Malah dianggap biasa aja. Klise. Padahal bahasa itu sendiri yang kita pakai setiap hari, setiap detik. Bahkan aku sedang mengguanakan sebuah bahasa sekarang, di entri ini.

Kukira pilihan penjurusan di SMA itu udah mutlak, IPA dan IPS aja. Which means jalan buntu buat aku. Turns out, di salah satu SMA di Jakarta Barat ada yang membuka Kelas Bahasa. Tahun lalu ketika aku lagi sibuk bolak-balik ngecek posisi adek di situs PPDB Online, aku iseng ngebuka PPDB Online untuk SMA dan ngecek daftar siswa yang masuk salah satu SMA terkenal di Jakarta Barat. Iseng-iseng aja. Eh ternyata, ada pilihan jurusan Bahasa. Peminatnya emang gak banyak jurusan IPA atau IPS, tapi lumayan lah.

Sontak aku langsung ngasih tau ke Ibu. Langsung dengan semangatnya memutuskan kalau "Mulai hari ini, Aisha Zahrany Putri Noor akan belajar giat buat masuk jurusan Bahasa di SMA ***." Alasannya? Simple. Aku mau jam belajar Fisika, Ekonomi, dan Matematikaku berkurang.

Kembali lagi ke satu tahun lalu, percakapan dengan kakak sepupuku itu. Beliau bilang kalau Bahasa itu ilmu yang sempit. Cuma ngafalin vocab dan grammar, terus bikin puisi atau prosa (He didn't say that, but that's the stereotype tho). Dan aku sontak aja ngerasa tersinggung. Bagaimana bisa seseorang bilang Bahasa dan Sastra itu ilmu yang sempit? Tahu dari mana?

Aku sendiri memang bukan expert di bidang Bahasa. Tapi aku tahu betul bidang yang kucintai ini bukanlah ilmu yang sempit. Bahasa dan Sastra itu luas. Saking luasnya, orang-orang sampai gak banyak yang tahu. Sastra itu gak cuma tentang ngafalin beribu-ribu kata dan kalimat bahasa asing, terus nyusun kata-kata itu jadi diksi yang romantis. Sastra itu tentang cara kita melihat dunia dari jendela yang berbeda. Gak hanya satu, tapi lebih dari seribu.

Mungkin orang-orang gak tahu, tapi Bahasa dan Sastra ini adalah ilmu yang penting, lho. Gak kalah penting dengan IPA dan IPS. Tanpa Bahasa dan Sastra, kita gak akan bisa berkomunikasi seperti sekarang ini. Tanpa Bahasa dan Sastra orang-orang gak akan bisa mengungkapkan pikirannya. Bahasa bukan hanya tentang kata dan bahasa, tapi juga cara berpikir manusia, budaya dan cara pandangnya. Dengan belajar Bahasa dan Sastra, pikiran kita jadi lebih terbuka dan kita tidak akan menjadi seorang yang primitif dengan hanya melihat dunia dari satu sudut pandang saja. Satu lagi, kita punya beribu-ribu jendela untuk memandang dunia.

Terus, kenapa orang-orang gak begitu peduli dengan Sastra?

Aku sendiri juga gak tahu. Sangat disayangakan, tapi begitulah orang Indonesia. Kalau nilai bahasa kalian 100 tapi nilai Matematika kalian 70, habislah kalian. Percaya deh, orangtuaku juga menerapkan prinsip yang sama: Matematika itu penting, yang lain buat nanti aja.

Jangan mencoba untuk mengelak kalau itu memang kenyataannya. Bahkan aku sendiri sudah mencoba untuk menerapkan prinsip yang sama. Tapi susah untuk terlepas dari kenyataan bahwa, jauh di lubuk hati, Bahasa dan Sastra lebih penting bagiku. Bukankah mengejar apa yang kita impikan lebih penting daripada mengikuti pikiran orang yang menurutku sangat... mainstream.

Sterotip anak yang suka Bahasa tuh, gak pinter-pinter amat. Biasa-biasa aja. Sterotip lainnya (And the most common to hear) adalah; "Nanti besar mau jadi apa?"

Dari umur 7 tahun aku udah ingin jadi penulis. Dapet dari mana ide jadi penulis? Dari majalah Bobo. Iya, segala hal yang membuatku jatuh cinta berasal dari benda-benda simple. Aku pikir, buat apa ngabis-ngabisin waktu dan uang untuk belajar sesuatu yang gak kita sukai? Kalau kita gak ikhlas, kita gak akan berhasil. Karena segala hal yang kita lakukan harus didasari dengan niat.

Mungkin dari kecil aku memang gak niat belajar Matematika atau IPA, makanya sampai sekarang nilaiku di dua mata pelajaran itu biasa-biasa aja. Makanya sampai sekarang orang-orang menganggap otakku gak terlalu 'tinggi.' Tapi aku dari dulu niat banget belajar Bahasa. Sekali lagi, bahasa apapun. Makanya aku suka. Kenapa memilih Bahasa? Because I enjoy it. Nyadar gak sih kalian, kalau ketika kita mengikuti pelajaran, satu jam pelajaran (45 menit) itu kerasa kayak dua jam? Sementara 30 menit istirahat tuh rasanya kayak cuma 4-5 menit doang. Kenapa? Because we all love break time, kita semua menikmati waktu istirahat.

Begitupun denganku. I enjoy language and literature. Setahun belajar Bahasa Korea tuh rasanya cuma dua minggu doang. Sementara 15 menit belajar Matematika lamanya kayak 1 tahun. Karena itulah aku memilih Bahasa dan Sastra. Satu-satunya bidang yang ketika aku mengerjakannya, time flies so fast and I don't even realize it.

Jangan terpaku sama pendapat orang. No offense, tapi cara berpikir sebagian orang Indonesia memang masih 'agak' primitif. Every child has its own major. Kalau kamu bisa ngitung secepet kecepatan cahaya, belum tentu kamu bisa tahan mengingat beribu-ribu kalimat dari bahasa asing dan grammar. Gak semua orang bisa melakukan ini, gak semua orang bisa melakukan itu. Jangan membebani para penerus bangsa dengan sterotip yang bikin pikiran mereka jadi pendek. Indonesia butuh penerus-penerus bangsa yang mampu dalam segala bidang. Gak hanya MIPA atau IPS saja, tapi bahasa, budaya dan juga seni harus dipertahankan.

Of course, in the end of the day, aku akan tetap terpaku pada sterotip itu lagi. Zaman gak akan berubah hanya dengan satu 'click' dari mouse, pertanda entri sudah dipublikasikan. Tapi toh, there is no things such as impossible. There may be a hard thing, but there is always a way through it. Intinya, aku gak akan lagi berpikir hal-hal seperti, 'cuma anak yang begini yang bakal sukses.' I choose this, and I'll live with it forever.

Untuk siapapun yang menganggap dirinya kepincut dengan bidang 'minoritas' sepertiku, welcome to this world, dude. Gak perlu jadi sok realistis untuk memutuskan apakah bidang yang kalian tekuni itu benar atau salah. You'll know it by yourself. Kalau orang-orang bilang mah, "Believe in yourself." Atau kalau anak-anak remaja baperan bilang, "Yang bagus bakalan kegeser sama yang nyaman." That's extremely true.

Silahkan hujani orang-orang sepertiku dengan berbagai hal-hal klise. Silahkan anggap bahwa pada akhirnya, seseorang yang menekuni bidang yang kupilih gak akan jadi siapa-siapa. Toh, kita gak bisa meramal masa depan. Satu-satunya cara untuk melihat yang mana yang salah dan yang mana yang benar adalah dengan melewati hal itu sendiri.

So, to everybody in this world. Wether you're smart or not, choose whatever things that you like and enjoy the most. Dan buat orang-orang yang masih menganggap Bahasa dan Sastra itu ilmu yang 'sempit', silahkan cari tahu lebih banyak tentang bidang tersebut sebelum asal ceplos. Satu yang harus diingat, kalau gak ada Bahasa, maka budaya di Negri ini juga akan hilang. Kalau gak ada lagi orang yang menekuni Bahasa, maka keunikan Negri ini (Indonesia tercatat mempunyai banyak sekali bahasa daerah; things that you guys been proud about) akan hilang.

Katanya cinta Indonesia, kok gak mendukung ketika anak bangsanya ingin mengembangkan salah satu budayanya? :)

You Might Also Like

4 comment[s]

  1. Oww sama dong aku juga seneng bahasa. :D
    -FathimZahra

    BalasHapus
  2. Iya, aku sendiri heran kenapa mereka sempet berpikiran kalau jurusan IPA begini, Jurusan IPS itu kayak gini atau Bahasa itu seperti itu. Atau kita harus masuk IPAlah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sayang banget. Padahal ilmu di dunia ini gak cuma Ipa :(

      Hapus